Kenapa kita Sebaiknya Pakai Bank Syariah?

Share pengalaman yang sangat bermanfaat dan menarik untuk dibaca, dari website DISINI


Stereotipku pun Berubah Terhadap Bank Syariah

Dulu, aku beranggapan bahwa bank syariah itu tak jauh berbeda dengan bank konvensional yang sudah ada. Sistem di bank syariah yang hanya kutahu pada saat itu adalah sistem bagi hasil untuk menggantikan sistem bunga dalam bank konvensional. Apa bedanya kedua sistem itu, sama saja kan, demikian pernyataanku waktu itu. Stereotip negatif makin menjajal pikiranku, terutama saat aku mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di suatu bank syariah ternama.
Setelah kubandingkan, ternyata bank syariah menerapkan cicilan yang lebih mahal dalam program KPR-nya ketimbang yang diterapkan oleh bank konvensional. Padahal sang customer service di bank syariah tersebut sudah menjelaskan bahwa cicilan KPR di bank syariah adalah tetap sepanjang masa pembayaran/kredit, tak bakal dipengaruhi oleh suku bunga kredit yang dapat berubah-ubah sesewaktu.
Tanpa mengiyakan atau menidakkan, aku pun langsung undur diri.

Akhirnya, untuk cicilan KPR aku pilih bank konvensional dengan cicilan yang lebih kecil. Setahun kemudian, sesuai perjanjian, cicilan itu tak fix lagi, besarnya cicilan diserahkan pada besaran suku bunga yang berlaku di tahun itu. Awalnya tak masalah, namun saat suku bunga meninggi, cicilan pun ikut naik, dan besarannya melampui cicilan KPR bank syariah yang pernah ditawarkan padaku sebelumnya.

Pengetahuanku tentang bank syariah bertambah lagi kemarin, hingga membuatku tergerak untuk membuka rekening di bank syariah. Waktu menghadiri acara iB Kompasiana Blogshop di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2010 hari Minggu 25 Juli kemarin di JIEXPO-Jakarta, ada workshop tentang bank syariah. Dalam workshop tersebut dijelaskan bahwa bank syariah tak sekolot dulu lagi, produknya lebih banyak, dan pelayanannya pun lebih baik dan maju. Sistem bagi hasil tetap diterapkan untuk semua jumlah tabungan.

Makin besar Anda menabung, maka makin besar pula bagi hasil yang Anda terima. Prinsipnya ini sama seperti koperasi, makin besar biaya pembelanjaan kita di koperasi maka makin besar pula SHU (Sisa Hasil Usaha) yang bakal kita terima. Berbeda dengan bank konvensional, sistem bunga yang diterapkan tetap fix besaran bunganya untuk semua jumlah tabungan, kecuali untuk jumlah tabungan tertentu yang ditetapkan tidak memperoleh bunga bank karena terlalu sedikit.

Misalnya, tabungan di bawah Rp500.000 tidak akan mendapat bunga, dan akan dikenai denda administrasi. Lambat laun tabungan pun habis. Hal inilah yang kualami di sebuah bank konvensional sangat terkemuka, hingga sisa tabunganku tak mencukupi untuk membayar biaya administrasi dan denda, dan akhirnya rekeningku ditutup secara otomatis oleh pihak bank.

Dengan sistem bagi hasil yang diterapkan oleh bank syariah tersebut, nasabah di luar Islam pun makin tertarik dengan sistem ini. Mereka merasa mendapat keuntungan yang lebih adil dengan sistem bagi hasil.

Salah satunya adalah Susi Susanti, atlet bulu tangkis kita dahulu. Untuk pembiayaan usahanya, dia memanfaatkan bank syariah, demikian pula dengan tabungan, dan investasi lainnya. Hal ini juga telah diikuti oleh banyak pengusaha lainnya. Hebatnya lagi, saat krisis moneter di Asia dan Amerika beberapa waktu lalu, sistem perbankan syariah tetap stabil dan tak terimbas dengan krisis keuangan tersebut, karena mereka tak berkewajiban untuk membayar bunga yang gila-gilaan.

Biasanya saat krisis moneter, bank-bank konvensional akan menerapkan bunga yang tinggi untuk menarik dana nasabah, dan kenaikan bunga ini akan menjadi tragedi bagi nasabah yang mempunyai pinjaman di bank bersangkutan sehingga cicilan yang harus mereka bayarkan akan makin tinggi. Akibatnya, pembayaran cicilan jadi macet, dan bank pun tak mampu membayar bunga tabungan pada nasabahnya yang lain. Akhirnya, bank itu kolaps dan pailit.

Keadaan inilah yang dialami oleh Bank Investasi Amerika Serikat, Lehman Brothers saat krisis keuangan di Amerika dua tahun lalu. Seandainya Lehman Brothers menerapkan sistem syariah sejak awal, pasti bank itu tak akan mengalami nasib yang tragis.

Comments

Post a Comment

Komentar

Popular posts from this blog

Man kaana yu’minu billahi wal yaumil aakhir, fal yaqul khairan au liyasmut

emang bener kita orang kaya?...

KESEIMBANGAN KATA DALAM AL QUR'AN (bukti Qur'an bukan tulisan Nabi SAW)